Sabtu, 14 Mei 2016

TUAN PUAN DAN PENANTIAN

Malam semakin larut, kuseruput kopi hitam yang hampir menyentuh dasar gelas, warnanya semakin pekat, aromanya sudah tak lagi sama. Aku masih fokus pada layar ponselku, dan meneguk lagi kopi itu hingga tersedak. Bukan karena kopiku yang mulai pahit, tapi karena sebuah status dari akun facebook yang sangat aku kenal.
Nisa namanya, dia adalah teman sewaktu aku SMA. Entah mengapa aku sangat tertarik padanya. Sudah 4 tahun aku mengaguminya dalam diam. Dia wanita yang sangat berpegang teguh pada prinsipnya. Jilbab yang ia kenakan membuat aku sangat menghargainya, pemahaman agamanya baik, Dia santun dan juga cerdas.

Saat ini mataku hanya terpaku pada status yang ditulisnya beberapa menit yang lalu.

"Tuan, namamu tak dapat kureka. Jelas adanya namun tanpa sketsa. Bila masa indah itu ada, doa yang kusisipkan kini tak lagi untuk si pulan. Ada namamu di dalamnya," Kubaca dalam hati.

Akupun tak lupa membubuhkan like pertama untuknya. Bodohnya aku yang berharap namaku yang nanti ada dalam doanya.

"Mungkinkah aku Tuan tanpa sketsanya?" Kataku lirih.

"Sudahlah perihal jodoh hanya allah yang tahu, kita manusia bisa apa? Hanya bisa memperbaiki diri dan sabar menanti dalam taat," Secepat kilat aku menepisnya.

Beberapa menit kemudian akupun membuat status tandingan. Bukan untuknya, tapi untuk diriku sebagai pengingat diri.

"Puan, untukmu yang sedang dalam penantian. Sabarlah barang sebentar saja. Akupun sedang berusaha, aku akan datang bila takdir indah itu ada untuk kita berdua. Sekarang biarlah aku mencintaimu dalam diam," kataku spontan sambil mengetiknya pada beranda facebook.

Tapi aku selalu menyamarkan namanya dengan sebutan Puan, ya hanya itu yang terlintas. Terdengar manis saja saat aku menyebutnya, mungkin Puan itu karena dia perempuan. Akupun menutup ponselku dan tak berharap dia membacanya.

"Aku selalu paham bahwa bila cinta telah datang kita akan dihadapkan pada 2 pilihan, menikahi atau menghormati. Bila aku belum siap untuk menikahi maka biarlah aku menghormatimu, dengan cara mencintai dalam diam. Aku kembali teringat pada kisah cinta suci Sayidina Ali dan Sayidatina Fatimah, yang sama-sama mencintai dalam diam. Kemudian Allah pertemukan dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Biarlah Allah yang akan menuntun langkahku menujumu Puan. Aku berdoa semoga Allah selalu menguatkan hati kita, yang sedang menentang kehendak diri, menundukkan nafsu hati. Aku tak pernah tahu bagaimana akhir kisah ini, karena jodoh adalah ketika kecenderungan hati mendapat ridho dari-Nya. Semoga allah meridhoi kita Puan," kataku menasehati diri sendiri sambil menghabiskan satu teguk kopi terakhir. (SLW)

End

Bekasi, 15 Mei 2016

***dibuat pada Event Inspiratif Kbm di Komunitas Bisa Menulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar