Hatiku sempat membeku, sampai saatnya kau hadir mencairkan segalanya.
Pertemuan itu sangat membekas dihati, hingga tombol delete seketika hilang dari deretan tombol dihatiku, yang aku tahu hatiku telah tertambat padamu.
Namun apalah dayaku bila waktu tak berpihak padaku, orang yang diharap menyembuhkan kini membuat luka baru.
Bukankah bila sudah begini lebih baik pergi?,
Percuma sama-sama saling cinta, bila jalan yang diambil bercabang dua. kalau memang aku tujuanmu, kenapa ditempat lain kau berlabuh.
Satu lagi pelajaran, jangan salah melabuhkan perasaan. Harus di ingat, selalu begitu dan berulang.
Jumat, 27 November 2015
Surat kecil untuk adikku
Kita memang sering bertukar kata
tentang segala hal yang gila, hari-hari pun terasa kurang lengkap bila kita tak
bertatap muka walau sehari saja, ada tawa dan canda namun ada juga tangisan
manja yang tak luput di wajah adikku ini, ketika candaan kita tak lagi terlihat
lucu. Hari hari yang kita lewati pun terlihat monoton dan berulang. Nonton tv
bersama, terkadang makan juga bersama, membersihkan rumah, bercanda dan berbagi
kisah tiap harinya.
Ada banyak hal yang tak bisa aku ungkapkan kepadamu, tapi akan ku
sampaikan meski tak langsung ku ungkapkan.
Ribuan kata sudah kita bicarakan,
beberapa hal pun tak pernah habis di perbincangkan. Dari hal gila, beberapa
curahan hati dan masalah yang cukup rumit pun sudah kita selesaikan. Namun ada
beberapa hal yang tak bisa aku ungkapkan langsung kepada mu. Bukan rahasia,
hanya saja ada perasaan sedikit malu untuk mengutarakannya. Bisakah kau
luangkan waktu sedikit saja untuk membacanya. Semoga kau bisa memahami setiap
kata yang akan aku ungkapkan.
Ini tentang tujuan kita dan kebahagiaan ibu bapak di masa tua.
Bukankah kamu tahu ada banyak
impian dan cita-cita yang kita susun bersama, berharap semua bisa terwujud
dengan indah. Orang tua yang harus bahagia di masa tua, rumah yang layak untuk
kita tempati dan masa depan yang belum kita ketahui ujungnya. Bisa kah kita
bersama-sama berjuang mewujudkannya? Memulai kembali pondasi yang dulu sempat
hancur menjadi puing-puing luka dan air mata. Mungkin sekarang belum cukup
bahagia tapi kebahagiaan akan hadir bila kita ciptakan sendiri. Sesederhananya
canda tawa yang kita lewati saat menonton acara televisi.
Bila aku tak cukup baik berupaya membahagiakan, mau kah kamu
menyempurnakan langkah yang sempat berjalan.
Ketika usaha terbaik sudah
dilakukan namun tak kunjung berbuah,
ketika ribuan doa belum cukup dikabulkan, ketika kegagalan selalu menjadi
teman, meski bangkit namun terjatuh lagi. Jika aku mulai lelah berjalan, jika
ada banyak air mata dan kekecewaan, aku sebagai kakak yang tak cukup baik untuk
dijadikan teladan. Kuatkan langkahku, rangkul aku dan bersiaplah
melanjutkannya. Bisakah kau memperbaiki kurangku? Bisakah kau berupaya lebih
keras lagi? Bisakah kau berdoa lebih ikhlas lagi? Semoga kau bisa lebih gigih
dari aku kakakmu.
Mari kita susun lagi langkah baru, menyempurnakan yang biasa,
melengkapi yang kurang, menemukan yang hilang. Semoga ada satu dari kumpulan
doa yang dikabulkan.
Jatuh kita bersama, bahagia kita
bersama, tak ada yang berani pergi melangkah sendiri, meski hujan kebasahan,
siang kepanasan tak akan jadi penggoyah rasa kebersamaan. Kita lupakan sejenak
kesulitan hidup, jika doa dan usaha terbaik tak cukup mewujudkannya, setidaknya
kita sudah berusaha. Masih ada waktu untuk
kita menyusun kembali langkah baru dan
membuat skala bahagia lebih kecil lagi. Sesederhana mungkin tanpa standar batas
minimal. Dengan mensyukuri nikmat, beribadah yang giat, dan keyakinan kepada
Allah yang kuat. Semoga ini menghantarkan kita ke kebahagiaan yang abadi, bila
tidak di dunia semoga di akhirat bisa.
Dari kakakmu yang tak cukup
tangguh
Selasa, 24 November 2015
Aku adalah kelabu
Aku adalah karya yg dilahirkan dari air mata dan harapan, jutaan asa yang menghilang, semakin jauh meninggalkan dan sulit untuk ku genggam. Duhai apakah kiranya hanya sepi yang bertahta dalam jiwa, masuk kedalam dengan hebat menembus dinding kebahagiaan. Bahagia memang ada, tapi kenapa lebih banyak luka dihati dari pada di tubuhku. Aku lebih banyak menangis dihati dari pada di mataku.
Kesepian itu meruntuhkan kuatku, ketika hati ini tersentuh amat lembut lalu di singkapnya lagi dengan luka yang amat menyakitkan, tepatnya disini... ya didalam hatiku. Belum kering luka ini ditambah lagi air garam nan tajam, sepercik pun aku tak mau, sangat pedih rasanya.
Aku nikmati rasa ini sendiri, apapun yang terjadi hidup tak sampai disini, masih berlanjut dan harus ku kejar semua asa dan bahagia itu. Meski semakin ku kejar ia menghilang, ku singkap setitik cahayanya justru memudar. Masa depan terlalu abu-abu untukku terka. Gelap namun harus tetap berjalan.
Kecewa, terluka, gagal, jatuh, terhina. Tak usah diragukan lagi tangguhnya, tak usah dikeluhkan lagi air matanya, tangguh dan tak terkalahkan. Sudah terlalu hafal dengan luka, berteman dengan sepi, bersenjata sabar dan doa. keyakinan menjadi penyokongku. Akan ada bahagia disana, hanya saja perlu jutaan air mata yang terbuang, perlu ribuan kegagalan disetiap perjuangan. Hingga akhirnya sampai pada tujuan.
Ini bukan ratapanku, ini adalah semangatku, ambil lah kegigihanku saja, lupakan cerita pedihku, semoga kita bisa belajar dari semua kesakitan, hikmah berlimpah akan ada dari sebuah kesabaran.
Ini bukan ratapanku, ini adalah semangatku, ambil lah kegigihanku saja, lupakan cerita pedihku, semoga kita bisa belajar dari semua kesakitan, hikmah berlimpah akan ada dari sebuah kesabaran.
Bukankah akan ada pelangi setelah hujan dan badai?, bukankah mutiara dihasilkan dari air mata dan kesakitan? Bukankah akan datang mentari setelah gelap malam? Keyakinanku kepada Sang Pencipta tak boleh luntur, Janji-Nya adalah benar "Bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan" dua kali tertulis indah dalam firman-Nya. "Maka nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?"
#menjelang maghrib disudut kamar kecil
(Susi cuzpict)
#menjelang maghrib disudut kamar kecil
(Susi cuzpict)
Senin, 23 November 2015
Temanku si pendiam ulung
Selamat pagi teman, ini ribuan kali aku menyapamu, dan seperti biasa tak ada jawaban dari salamku ini. Tapi masih saja aku bicara tanpa henti, sambil tertawa kecil aku mengajakmu ke tempat baru yang belum kita datangi. "Mau kemana kita hari ini?" semoga kau tak lelah ya menemaniku.
Dan tanpa jawaban pun aku tahu, ia teman terbaikku, tak pernah mengeluh menopangku, tak pernah menolak ajakanku, teman menjelajah ruang yang ramah,
Butuh penyeimbang saat bersamamu, bila tidak ingin terjatuh. Dan saat itu terjadi kaulah yang menjadi tamengku saat aku terjatuh.
Denganmu semua terasa lebih cepat, tak perlu berlari sendiri.
Semua sangat seimbang, ketika aku tergesa-gesa kau mengatur langkahku. Energi dariku kau serap menjadi langkah. Perlahan demi perlahan kita akan mencapai tujuan yang sama. beriringan dan sejalan, meski jalan yang terjal kita bisa melewatinya bersama.
Aku tertawa geli, karna terlalu banyak kata-kata ku ini untuk kau Sepedaku, ya dia teman terbaikku. hanya sebuah benda mati, tak mungkin didengar, sudah ya sepedaku lebih baik kita cari tempat yang baru dengan perjalanan baru dan menyehatkan.
Minggu, 22 November 2015
Tuan tanpa sketsa jodohku
Tuan...
Namamu tak bisa ku reka, sunyi ku lihat namun tanpa sketsa. Bila masa waktu indah itu ada, doa yang ku sisipkan kini tak lagi untuk si pulan. Ya ada namamu didalamnya.
Tuan ku tuliskan surat ini untukmu, yang nanti akan kau baca setelah meminangku. Ada banyak yang ingin ku sampaikan padamu, semua yang belum terjawab oleh pikiranku. Namun aku selalu percaya, setiap pertanyaan itu selalu berpasangan dengan jawaban, dan untuk keduanya bertemu yang dibutuh kan cuma waktu.
"ya saat ini aku sedang bergulat dengan waktu, bersejantakan sabar dan keyakinanku!" tahukah kau tuan, berapa kali aku membunuh rasa rindu ini untukmu, itu seperti ada banyak pisau yang ku tancapkan pada hatiku sendiri, sakit memang tapi tak berbekas. Tak berdarah namun menyesakkan dada. Kau tak pernah tahu berapa banyak susunan doa yang tertulis indah di langit? Meski tak tahu namamu aku tetap berdoa, meski tak tahu rupamu aku selalu meminta, sepotong harapan yang selalu ku sisipkan dalam ibadahku. "Ya ALLAH, untuk si pulan yang nanti akan menjadi jodohku, tuntunlah langkahnya dalam pencariannya menemuiku, berkahilah setiap perjalanannya saat ini. Jagalah hatinya untukku seperti aku menjaga hatiku untuknya, dan pertemukan kami pada sebuah ikatan yang Engkau restui, tiada daya dan upaya melainkan atas pertolongan mu ya ALLAH"
Sebelum kita bertemu saat ini, aku pun tahu tuan, betapa berat jalan yang kau tempuh untuk mencariku, beberapa hati mungkin kau selami, namun Dimana gerangan adanya, hanya keyakinan pada Tuhanmu yang menguatkan hingga akhirnya kita dipertemukan.
Aku pun sama halnya denganmu, jutaan rindu yang tak bertuan, ribuan cinta yang tak tahu hendak ku tujukan kepada siapa, malam-malam yang ku lewati hanya berteman sepi, ku lamunkan wajahmu yang tersembunyi, hanya senyuman manis yang ku lihat. Indahnya bila itu nyata, ketika selang waktu aku hanya tersentak dalam lamunanku. Sadarku aku telah terjebak dalam ilusiku sendiri.
Diujung jalan nanti, takdir akan berkata, ribuan tanya akan terjawab, jutaan rindu telah bertuan, cinta akan terbalas, dua hati yang saling merindu bertemu, ada dua doa yang dikabulkan. Mimpi yang jadi kenyataan, harapan bukan sekedar lamunan. Ketika pertemuan itu terjadi, yakinkan aku bahwa kau yang selalu ada disetiap doaku, kamu yang selalu kutitipkan rindu melalui ALLAH, kaulah jawaban atas doaku, tuan yang membuat aku mencari, dan segeralah kau hentikan pencarianku ini.
Padamu Tuan tanpa sketsa, ku tambatkan hati ini meski tak pasti. Semoga takdir indah itu ada. Untuk Kita yang sedang berjuang, menentang kehendak diri dan menundukkan nafsu hati. (SLW)
Namamu tak bisa ku reka, sunyi ku lihat namun tanpa sketsa. Bila masa waktu indah itu ada, doa yang ku sisipkan kini tak lagi untuk si pulan. Ya ada namamu didalamnya.
Tuan ku tuliskan surat ini untukmu, yang nanti akan kau baca setelah meminangku. Ada banyak yang ingin ku sampaikan padamu, semua yang belum terjawab oleh pikiranku. Namun aku selalu percaya, setiap pertanyaan itu selalu berpasangan dengan jawaban, dan untuk keduanya bertemu yang dibutuh kan cuma waktu.
"ya saat ini aku sedang bergulat dengan waktu, bersejantakan sabar dan keyakinanku!" tahukah kau tuan, berapa kali aku membunuh rasa rindu ini untukmu, itu seperti ada banyak pisau yang ku tancapkan pada hatiku sendiri, sakit memang tapi tak berbekas. Tak berdarah namun menyesakkan dada. Kau tak pernah tahu berapa banyak susunan doa yang tertulis indah di langit? Meski tak tahu namamu aku tetap berdoa, meski tak tahu rupamu aku selalu meminta, sepotong harapan yang selalu ku sisipkan dalam ibadahku. "Ya ALLAH, untuk si pulan yang nanti akan menjadi jodohku, tuntunlah langkahnya dalam pencariannya menemuiku, berkahilah setiap perjalanannya saat ini. Jagalah hatinya untukku seperti aku menjaga hatiku untuknya, dan pertemukan kami pada sebuah ikatan yang Engkau restui, tiada daya dan upaya melainkan atas pertolongan mu ya ALLAH"
Sebelum kita bertemu saat ini, aku pun tahu tuan, betapa berat jalan yang kau tempuh untuk mencariku, beberapa hati mungkin kau selami, namun Dimana gerangan adanya, hanya keyakinan pada Tuhanmu yang menguatkan hingga akhirnya kita dipertemukan.
Aku pun sama halnya denganmu, jutaan rindu yang tak bertuan, ribuan cinta yang tak tahu hendak ku tujukan kepada siapa, malam-malam yang ku lewati hanya berteman sepi, ku lamunkan wajahmu yang tersembunyi, hanya senyuman manis yang ku lihat. Indahnya bila itu nyata, ketika selang waktu aku hanya tersentak dalam lamunanku. Sadarku aku telah terjebak dalam ilusiku sendiri.
Diujung jalan nanti, takdir akan berkata, ribuan tanya akan terjawab, jutaan rindu telah bertuan, cinta akan terbalas, dua hati yang saling merindu bertemu, ada dua doa yang dikabulkan. Mimpi yang jadi kenyataan, harapan bukan sekedar lamunan. Ketika pertemuan itu terjadi, yakinkan aku bahwa kau yang selalu ada disetiap doaku, kamu yang selalu kutitipkan rindu melalui ALLAH, kaulah jawaban atas doaku, tuan yang membuat aku mencari, dan segeralah kau hentikan pencarianku ini.
Padamu Tuan tanpa sketsa, ku tambatkan hati ini meski tak pasti. Semoga takdir indah itu ada. Untuk Kita yang sedang berjuang, menentang kehendak diri dan menundukkan nafsu hati. (SLW)
mulailah
Ketika ribuan kata-kata tak terbendung lagi, ketika lamunan menghanyutkan imaginasi, saat semuanya berhasil mendobrak dinding ruang karyamu, inilah saatnya kamu menulis.
Langganan:
Komentar (Atom)
