Selasa, 26 Januari 2016

Fiksi Mini (Tentang Rasa)

"Apakah kau tahu dek, ada rasa yang tak bisa berubah, dari mula hingga sampai nanti, tak berubah sedikit pun hakikatnya!"

"Apakah itu kak? Mungkin rasa cinta atau rasa kecewa?"

"Bukan dek, tapi rasa garam."

Si kakak tertawa jahat dan si adik yang sejak tadi menyimak dengan cermat hanya berfikir keras sambil garuk-garuk tembok. *Susi LW

Jumat, 08 Januari 2016

CINTA SERIBU IBARAT

Harus dengan apa aku memaknainya, bila cinta bukan sekedar kata, lantas kusebut ia apa?

Tak bisa aku artikan dengan tepat, tapi banyak penjelasan didalamnya, tergantung dari sudut mana kita memaknainya.

Ia ibarat pagi yang tak pernah aku tahu kehadirannya, datang atau tidak, mendung atau cerah.
Terkadang ia memancarkan sisi wajahnya bagai malam, gelap kadang berbintang.

Ada yang mengira ia matahari di siang bolong, untuk menatapnya pun katanya tak akan mampu,
Bulan pun pernah di sandingkan dengannya, katanya cinta terlalu jauh tak bisa untuk di gapai.

Bagi sang pecandu, cinta layak nikotin yang bebahaya tapi tetap menjadi kebutuhan. Bukankah ini sangat janggal? Yang menyakitkanpun tetap jadi kebutuhan?,

Lalu bagaimana dengan sang penyair, cinta baginya kumpulan kata yang menjadikannya indah, sebuah syair penggugah rasa, harus ditulis dan abadi dalam karyanya.

Betapa indahnya kau cinta bagi penyair yang dirundung api asmara, namamu indah dalam lamunannya, selalu jadi topik di setiap karyanya.

Tapi maaf kau harus jadi yang terhina oleh sang penyair yang terluka. Namamu jadi tema dari ribuan kata luka,
Terima saja meski bukan kau yang bersalah.

Bila kau udara bagaimana aku bisa menjamahmu? Kau tak tersentuh namun dapat ku rasakan.

Pisau yang tajam tak beda denganmu, bisa saling membuat luka, namun tak nampak jelas sakitnya.

Kau bagai alunan syahdu, yang tak henti-hentinya aku dendangkan.

Kau bagai lukisan alam, indah dimata dan sejuk dihati,

Pujangga yang berkata bahwa tanpamu bagai taman yang tak berbunga,

Lalu bagaimana dengan bumbu penyedap rasa, tanpamu hambar rasanya.

Layaknya berjalan diatas kaca, untuk melaluinya kita perlu berhati-hati bila tak ingin hancur berkeping-keping.

Kau indah namun menyimpan luka, bagai mawar yang berduri.

Jalanmu kadang bercabang dua, bagi si penghianat cinta yang tak setia.

Kau bagai dermaga, tempat jutaan hati yang bermuara.

Bagai pantai yang merindukan ombak, kadang pasang dan kadang surut.

Bagai rintik hujan yang tetap hadir meski ia tahu rasanya jatuh berkali-kali.

Bagai air penghilang dahaga,

Kau bisa menjadi obat penyembuh luka, atau berbalik menjadi racun yang mematikan.

Bagai pintu yang kadang terbuka dan tertutup, ia hanya perlu kunci untuk membuka hatinya.

Masih banyak yang tak bisa aku gambarkan, hingga aku harus menyimpannya sendiri,

Tersenyumlah, karna cinta pasti datang padamu, tunggu saja waktunya hingga ribuan kata tercipta dan silahkan artikan sendiri keistimewaannya.

Pada akhirnya, seindah apapun kita mengartikannya, cinta tetaplah cinta, banyak penjelasan didalam ketidakjelasannya.

Kamis, 07 Januari 2016

SEPULUH KUNCI REZEKI

PERTAMA, ISTIGHFAR
Allah swt berfirman, "Maka aku katakan kepada mereka: mohonlah ampun kepada tuhanmu (istighfar) sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Dia akan mengirim kepada kamu hujan yang lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anak, dan menjadikan untukmu kebun-kebun serta menjadikan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai." (Q.S. Nuh: 10-12)

KEDUA, TAWAKAL
Allah swt berfirman, "Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (orang yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (Q.S. Ath-Thalaq: 3)

KETIGA, SYUKUR
Allah swt berfirman, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikamt-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih." (Q.S. Ibrahim:  7)

KEEMPAT, MENDIRIKAN SHALAT DAN SABAR
Allah swt berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, minta tolonglah kalian (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Q.S. Al-Baqarah: 153)

KELIMA, MENJALANKAN SHALAT SUNNAH DHUHA
Seperti yang dikatakan oleh Abu Hurairah.r.a., "Kekasihku saw mewasiatkan kepadaku tiga hal yaitu, berpuasa tiga hari setiap bulannya, mengerjakan dua rakaat shalat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur." (H.R. Bukhari)

KEENAM, MENGERJAKAN SHALAT SUNNAH HAJAT
Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang mempunyai hajat kepada Allah atau kepada seseorang diantara anak Adam (manusia), maka hendaklah dia berwudhu dengan sempurna. Setelah itu, hendaklah dia shalat dua rakaat, lalu memuji dan mengagungkan Allah swt; bershalawat kepada Nabi saw." (H.R. Tirmidzi dan Nasa'i)

KETUJUH, MELAKSANAKAN SHALAT SUNNAH ISTIKHARAH
Rasulullah saw bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian hendak memutuskan suatu urusan, maka hendaklah ia shalat dua rakaat di luar shalat fardhu. Kemudian ucapkanlah doa: Allahumma inni astakhiruka bi 'ilmika..." (H.R. Bukhari dan Ashhabus Sunan)

KEDELAPAN, SEDEKAH
Allah swt berfirman, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah: 261)

KESEMBILAN, TAKWA
Allah swt berfirman, "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikannya jalan keluar. Dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka sebelumnya." (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3)

KESEPULUH, SILATURRAHIM
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, 'barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dilambatkan ajalnya, hendaklah dia menghubungi sanak saudaranya (silaturrahim)," (H.R. Bukhari)