Selasa, 31 Mei 2016

ADAKAH ALASAN UNTUK TIDAK BAHAGIA?

Oleh : Emoticon Smile (Susi LW)

Aku suka berdebat dengan Ayahku, tentang pemikiran apapun, yang aku suka setiap aku bertanya padanya, akulah yang akan menemukan jawabnya sendiri. Entah bagaimana caranya menjadi seperti itu. Aku memulai pembicaraanku padanya.

"Yah, aku ingin bertanya, adakah alasan untuk tidak bahagia?"

"Loh ko kamu bertanya seperti itu, kalau begitu bapak bertanya padamu, adakah alasan untuk tidak masuk surga? Sedang kenikmatan banyak disana!"

"Artinya, tidak ada?"

"Ayah tidak bisa menjawab, kamu yang tahu jawabannya."

"Bagaimana aku tahu, jika sekarang masih bertanya yah?"

"Bisa,"

"Caranya yah?"

"Berwudhulah, dan ambil alqur'an."

"Loh kok malah disuruh ngaji yah, baiklah yah tunggu sebentar."

Akupun bergegas dengan keherananku dan mengambil wudhu lalu berdoa, ku ambil al-qur'an dan menghampiri ayahku yang terlihat senyum padaku.

"Sudah duduk sini jangan bingung, sekarang kamu buka surat Ar-rahman ayat 13, bacalah artinya,"

"Maka nikmat tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan."

"Silahkan kamu simpulkan sendiri nak..."

"Berarti tidak ada satu nikmat pun yang bisa didustakan, karena sangat banyaknya nikmat tersebut,"

"Lalu adakah alasan untuk tidak bahagia?"

"Tidak ada."

"Pertanyaanmu sudah kamu jawab sendiri nak, jadi jangan bertanya lagi."

"Wah ayah hebat ya..."

"Sekarang kamu tahu jawabannya, kesimpulannya adalah tidak ada manusia di dunia ini yang tidak bahagia. Yang ada manusia yang mendustakan nikmat Allah SWT, maka dari itu bersyukurlah atas nikmat yang ada"

"Terus yah,"

"Terus nabrak."

"Ya ayah bercanda, ayah kira ini lagi parkir mobil."

Akhirnya kamipun tertawa. Dan aku telah menemukan jawaban dari pertanyaanku sendiri.

End

Bekasi, 16 Mei 2016

Jumat, 27 Mei 2016

THE BOOK (QUOTE)


Sudah tutup saja bukunya, aku hanya bagian kecil didalamnya, deretan huruf yang tak pernah kau baca.

***

Hatimu tak terbaca, bisakah kau mengejanya untukku?

***

Minggu, 22 Mei 2016

KUMPULAN PUISI

Filosofi Waktu

Nikmatilah irama detak tiap detiknya
Bukankah setiap jam memiliki waktu?
Dimana akan bertemunya jarum detik, menit dan jam
Pada garis yang sama

Bila aku detik yang selalu berputar
Maka kau adalah menit yang selalu menungguku
Lalu kita akan menuju
Jarum jam yang kusebut masa depan

****

TAKDIR YANG TAK BISA DIPESAN

Waktu itu...
Sehari usianya
Usai tangis memecah ketegangan
Berganti tawa dan haru bersuara

Adakah sang bayi berbicara?
Meronta-ronta dalam tangisnya?
Meminta hidup yang lebih baik dari yang ditakdirkan
Haha ini khayalan gila

Ayahnya tak berpangkat
Ibunya bersahaja
Sikecil yang belum mengerti artinya susah
hanya tahu rasanya asi yang tertelan basah

Lapar menangis puas
Kenyang tertidur pulas
Ikhlaslah menjalani hidup hingga besar
Hijaukan rumput sendiri jangan bandingkan

Bilapun hidup bisa ditukar
Biarlah tak perlu bertukar
Bilapun suratan bisa dipesan
Tak akan berubah walau dibayar kontan

Sebab keluarga adalah segalanya, meski tak punya segalanya

****

Tuan Tanpa Sketsa

Tuan...
Namamu tak dapat ku reka
Nyata adanya namun tanpa sketsa
Bila waktu indah itu tiba
Doa yang kusisipkan tak lagi untuk si Fulan
Ada namamu didalamnya

Tuan...
Kutambatkan hati
Meski tak pasti
Semoga takdir indah itu ada
Untuk kita yang sedang berjuang
Menentang kehendak diri
Menundukkan nafsu hati

****

Nyawa Kedua

Cinta...
Tak akan habis kata tersusun
Memaknai rasa yang tak jua beraua
Begitu rumitkah jalannya?
Hingga cinta tak kunjung menampakkan hadirnya

Cinta...
Dengan berjuta keanehannya
Banyak penjelasan diatas ketidakjelasannya
Tapi mengapa masih menantinya?
Sebegitu berartikah bagai nyawa kedua?

****

Pundak Lelaki

Engkau yang kusebut lelaki
Dewasa dalam pangkuan
Menimpa diri dalam asuhan
Hidupmu tak seperti anganmu
Jatuh dan terluka harus terbiasa

Kelak beban pundakmu tak hanya satu
Menjadi tanggungan bahagiakanlah
Orang tua, saudara, dan anak istrimu
Bertumpu satu pada kekar pundakmu

Melangkahlah
Seperti tak ada beban dipundak
Meskipun berat

(SLW)

***

Jumat, 20 Mei 2016

QUOTE

Terkadang hakikat cinta itu melepaskan. Seperti bernafas, ketika kita menghirupnya maka kita harus bisa melepasnya. Ia tetap menghidupkan meski tak bisa termiliki (SLW)

Rabu, 18 Mei 2016

JANGAN KHAWATIR, SEEKOR BURUNG SAJA DIBERI REZEKI

Sudah dimuat di islampos:
https://www.islampos.com/jangan-khawatir-burung-saja-diberi-rejeki-279292/


Baru-baru ini saya melihat sebuah gambar yang diposting oleh teman di beranda Facebook, disana terlihat pedagang buah laki-laki menggunakan gerobak dorong yang berisi pisang, timun suri dan seperti apel hijau. Apa yang membuat saya tergerak membahasnya disini? Sekilas tak ada yang aneh dalam gambar tersebut, tapi jika diperhatikan ada sebuah tulisan yang dipahat pada gerobak dorong pedagang tersebut, tepat di depan gerobaknya. Ditulis dengan bahasa arab bila dibaca seperti ini,

"Kayfa akhofu minal faqr wa ana abd Al-Ghany."

Dalam foto tersebut dijelaskan bahwa arti dari tulisan tersebut adalah:

"Bagaimana aku akan takut dengan kemiskinan, sedang aku adalah hamba dari Yang Maha Kaya."

Subhanallah, seorang pedagang buah yang tidak pernah khawatir atas rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Inikah yang disebut tawakkal?

Yahya bin Mu'adz rah.a ditanya, "Kapan seseorang bisa dikatakan tawakkal?" Dia menjawab, "Ketika dia telah rela Allah sebagai wakilnya."

Dari Umar bin Khattab r.a berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah SWT dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rizki (oleh Allah SWT), sebagaimana seekor burung diberi rizki; dimana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kemudian dalam sebuah buku berjudul "Nyanyian Sunyi Para Kekasih Ilahi" yang ditulis oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Pada Pasal Lima dijelaskan bahawa hakikat tawakkal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT, membersihkan diri dari kegelapan usaha dan pengaturan serta naik ke lantai melihat ketetapan dan takdir. Kemudian yakin bahwa tidak ada perubahan bagi sesuatu yang telah dibagikan dan apa yang telah dibagikan untuknya tidak akan luput darinya, sedangkan apa yang tidak dibagikan untuknya tidak akan pernah dia dapatkan. Hatinya menjadi tenang dengan itu. Dia yakin kepada janji Tuhannya, lalu hanya mengambil dari Tuhannya.

Yang menjadi dasar dalam masalah ini adalah firman Allah SWT:
"Barang siapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (Q.s. Ath-Thalaq : 3)

Semoga kita bisa senantiasa bertawakkal kepada Allah SWT dengan sebenar-benar tawakkal. Aamiin.


Senin, 16 Mei 2016

GARA-GARA PONSEL BARU

Oleh : Emoticon Smile (SLW)

Minggu-minggu ini Doni mulai jengkel dengan pacarnya yang super "ribet" itu, Rina namanya. Bagaimana tidak akhir-akhir ini dia selalu ingin bertemu setiap malam, bukan itu yang menyebalkan. Tapi saat bertemu dia asik sendiri dengan ponsel barunya. "Cekrek" sana, "Cekrek sini, Mencari angle 'sudut' yang pas untuk wajahnya. Belum lagi saat makanan yang dipesan datang, aduh ribetnya setengah mati. Saat itu Doni selesai berdoa dalam hati sebelum menyantap nasi goreng spesial dengan telur mata sapi yang dipesannya. Sendok ditangan kanan, garpu ditangan kiri, mulutnya sudah dibuka kecil, menanti nasi goreng spesial yang disendoknya mendarat. Jarak sendoknya kini hanya beberapa centi lagi.

"Wah... sepertinya enak nih..." kata Doni penasaran dalam hati.

Tapi hap, tangan rina memaksa doni menurunkan sendoknya dan berkata, "Sebentar deh sayang aku mau foto dulu makanannya buat aku upload."

Mulut Doni tertutup dan sendok yang diangkatnya diturunkan kembali, nafsu makannya sekejap hilang.

"Haah? Wanita macam apa ini. Noraaak..." kata Doni kesal dalam hati.

Doni hanya terdiam, Rina asik memotret makanannya tak memperdulikan wajah Doni yang mulai kesal.

Setelah kejadian itu Doni mulai memikirkan cara untuk memutuskan Rina yang super 'ribet' itu, bagaimana caranya memutuskan Rina tanpa harus ditanya alasannya. Ini pasti sulit, akan banyak pertanyaan dari Rina nantinya, dan Doni sangat benci berdebat. Akhirnya cara ini yang dipilih Doni.

Mereka berdua bertemu di sudut taman kota, duduk berdua di bangku taman, dan...

Doni memulai pembicaraannya, "Dek aku ingin bicara nih."

"Mau bicara apa sih sayang?" Rina menjawab dengan santai.

"Aku mau putus," kata Doni dengan suara yang sengaja dipelankan supaya Rina kembali menegaskan.

"Kamu ngomong apa sih sayang? Yang bener dong." Rina menjawab dengan bingung karena takut salah dengar.

"Loh memang kamu dengarnya bagimana?," kata Doni sengaja memancingnya.

"Aku mau putus." jawab Rina mengulang ucapan Doni tadi.

"Apa dek, kamu mau putus? Ya sudah kita putus ya. Sekarang kita temenan aja." kata Doni sambil menahan tawa. "Yes, akhirnya putus juga. Trik ini memang keren hahaha," kata Doni melanjutkan dalam hati.

Setelah itu Doni langsung pergi tanpa menunggu Rina berbicara lagi. Rina termenung, bingung dengan ucapannya sendiri. Setelah sadar dia menangis lalu tertawa. Hahaha sepertinya Rina mulai gila, niat hati mengulang ucapan Doni, malah jadi pernyataan putus. Ini salah siapa?

End

Bekasi, Mei 2016

*** keh...keh... :D

*dibuat pada event cerita mini komedi di Komunitas Bisa Menulis.

Minggu, 15 Mei 2016

NASIHAT YANG TAK DIMINTA

Hari ini saya kembali dingatkan dengan kejadian kecil tapi cukup menyentuh hati ini sampai ke dasarnya. Betapa tidak, ketika sedang melaju dengan sepeda motor di jalan. Saya melihat seorang bapak yang tiba-tiba menghentikan laju sepeda motornya. Saat itu saya masih belum mengerti kenapa motornya berhenti tiba-tiba?

Beberapa detik kemudian saya baru sadar saat bapak itu menundukkan kepalanya dan tangannya meraih sebuah paku tepat di tengah jalan, kemudian paku itu disingkirkan jauh dari jalan. Subhanallah, kebaikan kecil yang bermanfaat untuk banyak orang, aku tersenyum salut. Nasehat yang tidak diminta datang dari seorang bapak itu, sudah masuk sampai ke dalam hati. "Bahwa lakukanlah kebaikan sekecil apapun, karena kita tidak pernah tau kebaikan mana yang menghantarkan kita ke surga."

Firman Allah swt,
"Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." (Q.s. Ali-Imran : 148)

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Setiap persendian manusia wajib bersedeqah pada setiap hari dimana matahari terbit padanya". Beliau SAW bersabda pula, "Kamu mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedeqah, kamu menolong seseorang pada kendaraannya, yaitu membantu untuk menaikkannya atau mengangkatkan barang-barangnya diatas kendaraannya adalah sedeqah". Beliau SAW bersabda lagi, "Ucapan yang baik adalah sedeqah, dan setiap langkah kamu berjalan untuk shalat adalah sedeqah, dan kamu menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedeqah". [HR. Bukhari dan Muslim, dan lafadh ini bagi Muslim]

Semoga Allah membalas dengan kebaikan untukmu bapak.

Bekasi, 16 Mei 2016

Sabtu, 14 Mei 2016

TUAN PUAN DAN PENANTIAN

Malam semakin larut, kuseruput kopi hitam yang hampir menyentuh dasar gelas, warnanya semakin pekat, aromanya sudah tak lagi sama. Aku masih fokus pada layar ponselku, dan meneguk lagi kopi itu hingga tersedak. Bukan karena kopiku yang mulai pahit, tapi karena sebuah status dari akun facebook yang sangat aku kenal.
Nisa namanya, dia adalah teman sewaktu aku SMA. Entah mengapa aku sangat tertarik padanya. Sudah 4 tahun aku mengaguminya dalam diam. Dia wanita yang sangat berpegang teguh pada prinsipnya. Jilbab yang ia kenakan membuat aku sangat menghargainya, pemahaman agamanya baik, Dia santun dan juga cerdas.

Saat ini mataku hanya terpaku pada status yang ditulisnya beberapa menit yang lalu.

"Tuan, namamu tak dapat kureka. Jelas adanya namun tanpa sketsa. Bila masa indah itu ada, doa yang kusisipkan kini tak lagi untuk si pulan. Ada namamu di dalamnya," Kubaca dalam hati.

Akupun tak lupa membubuhkan like pertama untuknya. Bodohnya aku yang berharap namaku yang nanti ada dalam doanya.

"Mungkinkah aku Tuan tanpa sketsanya?" Kataku lirih.

"Sudahlah perihal jodoh hanya allah yang tahu, kita manusia bisa apa? Hanya bisa memperbaiki diri dan sabar menanti dalam taat," Secepat kilat aku menepisnya.

Beberapa menit kemudian akupun membuat status tandingan. Bukan untuknya, tapi untuk diriku sebagai pengingat diri.

"Puan, untukmu yang sedang dalam penantian. Sabarlah barang sebentar saja. Akupun sedang berusaha, aku akan datang bila takdir indah itu ada untuk kita berdua. Sekarang biarlah aku mencintaimu dalam diam," kataku spontan sambil mengetiknya pada beranda facebook.

Tapi aku selalu menyamarkan namanya dengan sebutan Puan, ya hanya itu yang terlintas. Terdengar manis saja saat aku menyebutnya, mungkin Puan itu karena dia perempuan. Akupun menutup ponselku dan tak berharap dia membacanya.

"Aku selalu paham bahwa bila cinta telah datang kita akan dihadapkan pada 2 pilihan, menikahi atau menghormati. Bila aku belum siap untuk menikahi maka biarlah aku menghormatimu, dengan cara mencintai dalam diam. Aku kembali teringat pada kisah cinta suci Sayidina Ali dan Sayidatina Fatimah, yang sama-sama mencintai dalam diam. Kemudian Allah pertemukan dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Biarlah Allah yang akan menuntun langkahku menujumu Puan. Aku berdoa semoga Allah selalu menguatkan hati kita, yang sedang menentang kehendak diri, menundukkan nafsu hati. Aku tak pernah tahu bagaimana akhir kisah ini, karena jodoh adalah ketika kecenderungan hati mendapat ridho dari-Nya. Semoga allah meridhoi kita Puan," kataku menasehati diri sendiri sambil menghabiskan satu teguk kopi terakhir. (SLW)

End

Bekasi, 15 Mei 2016

***dibuat pada Event Inspiratif Kbm di Komunitas Bisa Menulis

Rabu, 11 Mei 2016

TAKDIR YANG TAK BISA DIPESAN

Waktu itu...
Sehari usianya
Usai tangis memecahkan ketegangan
Berganti tawa dan haru bersuara

Adakah sang bayi berbicara?
Meronta-ronta dalam tangisnya?
Meminta hidup yang lebih baik dari yang ditakdirkan
Haha ini khayalan gila

Ayahnya tak berpangkat
Ibunya bersahaja
Sikecil yang belum mengerti artinya susah
hanya tahu rasanya asi yang tertelan basah

Lapar menangis puas
Kenyang tertidur pulas
Ikhlaslah menjalani hidup hingga besar
Hijaukan rumput sendiri jangan bandingkan

Bilapun hidup bisa ditukar
Biarlah tak perlu bertukar
Bilapun suratan bisa dipesan
Tak akan berubah walau dibayar kontan

Sebab keluarga adalah segalanya, meski tak punya segalanya. (SLW)

*** dibuat untuk event tarung tulis babak pertama di Komunitas Bisa Menulis.