Rabu, 18 Mei 2016

JANGAN KHAWATIR, SEEKOR BURUNG SAJA DIBERI REZEKI

Sudah dimuat di islampos:
https://www.islampos.com/jangan-khawatir-burung-saja-diberi-rejeki-279292/


Baru-baru ini saya melihat sebuah gambar yang diposting oleh teman di beranda Facebook, disana terlihat pedagang buah laki-laki menggunakan gerobak dorong yang berisi pisang, timun suri dan seperti apel hijau. Apa yang membuat saya tergerak membahasnya disini? Sekilas tak ada yang aneh dalam gambar tersebut, tapi jika diperhatikan ada sebuah tulisan yang dipahat pada gerobak dorong pedagang tersebut, tepat di depan gerobaknya. Ditulis dengan bahasa arab bila dibaca seperti ini,

"Kayfa akhofu minal faqr wa ana abd Al-Ghany."

Dalam foto tersebut dijelaskan bahwa arti dari tulisan tersebut adalah:

"Bagaimana aku akan takut dengan kemiskinan, sedang aku adalah hamba dari Yang Maha Kaya."

Subhanallah, seorang pedagang buah yang tidak pernah khawatir atas rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Inikah yang disebut tawakkal?

Yahya bin Mu'adz rah.a ditanya, "Kapan seseorang bisa dikatakan tawakkal?" Dia menjawab, "Ketika dia telah rela Allah sebagai wakilnya."

Dari Umar bin Khattab r.a berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah SWT dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rizki (oleh Allah SWT), sebagaimana seekor burung diberi rizki; dimana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kemudian dalam sebuah buku berjudul "Nyanyian Sunyi Para Kekasih Ilahi" yang ditulis oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Pada Pasal Lima dijelaskan bahawa hakikat tawakkal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT, membersihkan diri dari kegelapan usaha dan pengaturan serta naik ke lantai melihat ketetapan dan takdir. Kemudian yakin bahwa tidak ada perubahan bagi sesuatu yang telah dibagikan dan apa yang telah dibagikan untuknya tidak akan luput darinya, sedangkan apa yang tidak dibagikan untuknya tidak akan pernah dia dapatkan. Hatinya menjadi tenang dengan itu. Dia yakin kepada janji Tuhannya, lalu hanya mengambil dari Tuhannya.

Yang menjadi dasar dalam masalah ini adalah firman Allah SWT:
"Barang siapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (Q.s. Ath-Thalaq : 3)

Semoga kita bisa senantiasa bertawakkal kepada Allah SWT dengan sebenar-benar tawakkal. Aamiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar