Sabtu, 14 Juli 2018

THE POWER OF DADAKAN "ANCOL-JAKARTA"

Mendadak, yups saya tidak sedang membahas tahu bulat yang digoreng dadakan. Tapi sebuah keinginan yang datang dan langsung dijalankan. Tanpa bla bla bla, tanpa rencana. Mengalir begitu saja dan terlaksana.

Kali ini pilihannya jatuh pada wisata pantai yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ancol, yang diambil dari sebuah nama kelurahan di kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

Sebagai kawasan wisata, Taman Impian Jaya Ancol ternyata sudah berdiri sejak abad ke-17. Waktu itu, Gubernur Jendral Hindia Belanda, Adriaan Valckenier, memiliki rumah peristirahatan sangat indah di tepi pantai. Seiring berjalannya waktu, kawasan itu kemudian berkembang menjadi tempat wisata. Selengkapnya tentang sejarah Ancol go to http://sejarahri.com/sejarah-ancol/

Untuk menuju lokasi tersebut saya membutuhkan waktu sekitar 1 jam 30 menit dari Kota Bekasi. Berikut rutenya :

> Dari stasiun Kranji naik KRL Komuter Indonesia jurusan Jakarta Kota. Tarifnya Rp 3.000 untuk sekali perjalanan.

> Dari stasiun Jakarta Kota kita naik angkot M15 arah Tanjung Priok. Turun di depan Ancol, Jakarta Utara. Tarifnya Rp. 5.000

> Langsung menuju loket pembayaran. Rp. 25.000/orang.




> Dari lokasi pintu masuk ini kita naik Bus Wara Wiri yang disediakan gratis oleh Ancol untuk wisatawan. Harus banyak sabar nunggunya ya gaes, kalo gak sabar bisa naik ojeg yang udah menawarkan dirinya sendiri macam sales jasa, tarifnya Rp. 10.000

> Turun dilokasi tujuan. Saya turun di halte pemberhentian setelah gondola.


> Dari sini jalan sedikit menuju pantai. Selamat berlibur, dan ini sedikit potret suasana pantai ancol dengan camera jadul milik saya.










Filosofi kali ini. Dalam setiap perjalanan, yang datang pasti akan pulang. Disambut dengan senyuman, diakhiri dengan lambaian nyiur yang seolah mendoakan semoga selamat sampai tujuan.


Datang tampak muka, pulang tampak punggung. Taati aturan yang ada di tempat wisata, buang sampah pada tempatnya.

Oh iya gaes saking asiknya foto bikin hape cepet lobet, kalo lupa bawa power bank bisa mampir ke charging corner. Lokasi tepat di depan jalur 4 stasiun Jakarta Kota, bawa charger selalu kemanapun kaki anda melangkah.


Terima kasih Jakarta, saya pamit pulang. Maafkan sudah melepas penatku disini dan meninggalkannya.

Rabu, 03 Agustus 2016

Mencintai Hobi



 Oleh : Susi LW

Berbicara soal cinta tak akan ada habisnya, sebab pesonanya dimiliki semua manusia. Manusia mana yang tidak memiliki cinta? Karena manusia diciptakan lengkap dengan akal dan hatinya. Aku juga demikian, mencintai sesuatu hingga lupa bahwa tak semua orang bisa menerima apa yang aku cintai. Tentunya setelah cintaku kepada Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, sebab itu adalah suatu keharusan. Aku mencintainya dengan tulus, tanpa syarat dan ketentuan apapun, begitupun sebaliknya. Bukan, aku tidak  membahas tentang perasaan di antara dua insan. Lebih dari itu, hingga mereka mempertanyakan cintaku, tak terkecuali adikku.

“Aduh heran sama Kakak, cinta banget sama menulis. Sampai lupa mencari cinta sejatinya.”

“Apa sih kamu Dek, ujung-ujungnya ngomong cinta sejati.”

“Haha, lagian Kakak aneh cinta kok sama yang begituan. Emang dibayar berapa sih tiap harinya? Mau jadi penulis ya? Mimpi kali ye.”

“Nah begini nih kalo anak kecil ngomongin cinta, berasa paling pinter sendiri. Kalo masih mikir berapa bayarannya itu sih bukan cinta Dek. Sejak kapan cinta menuntut bayaran? Cinta itu ikhlas, tanpa mengharap imbalan apapun. Ngerti gak?”

“Cieee cinta banget tuh…”

“Harus dong, karena gak semua penulis bisa mencintai pekerjaannya. Masih banyak yang menulis hanya untuk uang, tanpa mengetahui manfaat apa yang ada ketika mereka menulis.”

“Memang Kakak tahu manfaatnya? Nanti juga kalo udah jadi penulis cintanya berubah haluan jadi cinta uang dan popularitas.”

“Semoga enggak Dek. Menulis itu banyak manfaatnya, di antaranya bertambah ilmu pengetahuan kita. Karena ketika kita menulis maka kita akan semakin haus ilmu. Membaca jadi pelepas dahaganya, dengan membaca kita akan mendapat bahan tulisan. Kakak juga selalu inget pesan Ayah. Ketika ingin menulis yang terpenting bukan seberapa besar harga tulisannya nanti, tapi cobalah berpikir tentang seberapa besar manfaat dari tulisan itu.”

“Oh gitu yak Kak.”

“Iya jangan aneh ya dengan keputusanku mencintainya. Hehe. Walalupun ini cinta yang aneh, menulis dengan mayoritas penduduk Indonesia yang minat membacanya sangan rendah. Jadi merasa bertepuk sebelah tangan kalo mikir gitu Dek.”

“Yah baper deh… kalo gitu mah putusin aja kak.”

“Jangan dong, kamu gak tahu ya? Manfaat menulis itu tidak pernah putus, bahkan ketika penulisnya meninggal. Tentunya tulisan yang bermanfaat.”

“Masa iya begitu?”

“Iya dong, penulisnya boleh tiada tapi karyanya akan abadi selamanya.”

“Jadi pengen nulis nih Kak. Boleh gak aku cinta Dia?”

“Kalo cinta yang ini Kakak rela kok bagi-bagi.”

Akhirnya setelah percakapan panjang ini, Adikku tertarik untuk menulis. Semoga nantinya bisa mencintainya juga dengan ketulusan. Sejauh ini, hal yang membuat aku sangat mencintainya adalah pesan yang dikatakan oleh sahabat Nabi yang mendapat julukan sebagai pintu gerbang ilmu itu, Saidina Ali bin Abi Thalib Ra. “Bahwa setiap penulis akan mati hanya karyanyalah yang akan abadi, maka tulislah sesuatu yang membahagiakanmu di akhirat nanti.”

Inilah cintaku, cinta di atas kuburan, mencintai apa yang hakikatnya berada di atas gundukan tanah. Semoga cinta ini akan membahagiakanku kelak, meski jasadku sudah membusuk di dalam kubur.

Bekasi, 04 Agustus 2016
***

CINTAKU DI ATAS KUBURAN


CINTAKU DI ATAS KUBURAN

Cinta adalah anugerah yang Allah berikan setelah kehidupan. Lantas apakah jadinya bila cinta hanya tertuju kepada kehidupan di dunia? Bukankah ada kehidupan yang lebih kekal setelah kematian? Aku adalah lelaki yang mencintai dunia beserta isinya, tanpa tahu siapa yang berhak aku cintai lebih dari dunia dan seisinya

 ***

Aku menikmati kebahagiaan yang semu, memiliki kekayaan dari orang tua. Bisnis yang aku jalani tak terlepas dari campur tangan Ayahku. Diusia yang hampir kepala tiga ini tak membuatku memikirkan tentang masa depan, ya pernikahan. Entah mengapa Aku sangat menikmati masa lajang ini dengan pertemanan dengan wanita tanpa ikatan pernikahan. Bahagia tapi merasa hampa. Untuk apa memiliki gelas tapi kosong, tak ada air yang dapat melepaskan dahaga.
“Semua ini karena kamu Nisa. sudah kucoba untuk mencari penggantimu, tapi ingatan ini selalu berpihak kepadamu.” Aku memaki sebuah foto yang ada di tanganku.
Nisa adalah cinta pertamaku yang hilang. Dia memilih pergi setelah aku nyatakan perasaan ini, apa yang salah dengan ungkapan cintaku? Apa salah jika aku mencintai wanita berjilbab sepertinya? Tanpa sadar air mataku terjatuh, mengingat saat terakhir aku bertemu dengannya. Saat itu
pandangannya jatuh ke arah tanah, seolah tak memperhatikanku tapi mendengar secara dalam.

***

“Nisa tunggu sebentar, bisakah aku berbicara denganmu?”

“Silakan Doni, tapi gak lama ya!”

“Tapi jangan nunduk terus dong, kesannya terpaksa banget.”

“Tenang aja Don, aku dengerin ko. Buruan mau ngomong apa?”

“Aku mau jujur Nis, sebenernya aku suka sama kamu. Udah lama aku memperhatikan kamu, tapi kamunya cuek sih.”

“Terus?”

“Aku serius Nis, mau gak kamu jadi pacarku?”

“Denger ya Don, kalo kamu serius temui Bapakku. bagiku cinta itu hanya dihadapkan pada 2 pilihan. Jika kamu tidak bisa menghalalkan maka kamu harus bisa mengikhlaskan.”

***

Kring… Kring… Kring… Nada ponselku memecahkan lamunanku, tentangnya yang kini masih ada di dalam hati. Aku menyesal tak mengerti ucapan yang terakhir Nisa katakan dulu, bagiku semua itu hanyalah sebuah penolakan halus yang ia sampaikan. Saat itupun pikiranku masih labil, hanya memikirkan kesenangan sesaat. Merasa belum siap untuk menikah dengan alasan kuliah yang belum selesai dan amanat Ayah untuk meneruskan Perusahaan.

Nasi sudah menjadi bubur, kayu sudah menjadi arang. Dunia yang aku cintai kini meninggalkanku sendiri dalam kehampaan, cinta yang harusnya aku miliki kini telah menjadi jodohnya orang. Harta yang aku miliki tak bisa untuk memutar kembali waktu yang terbuang. Andai aku berani menghalalkan, aku tak harus merasakan sakitnya mengikhlaskan.

Aku jadikan semua ini sebagai pelajaran. Inilah cintaku di atas kuburan, hanya mencintai apa yang hakikatnya berada di atas gundukan tanah. Cinta yang hanya sebatas kesenangan dunia, berupa cinta, harta tahta dan wanita. Aku hanya mencintai dunia tanpa berfikir untuk mencintai-Nya. Bukankah manusia diciptakan untuk beribadah? Dan menikah adalah salah satu ibadah? Aku menyesal terlambat mengetahuinya. Cinta yang sejati akan menuntunku kepada seorang wanita yang juga mencintai-Nya. Nyatanya cinta Allah yang akan membahagiakanku kelak, meski jasadku sudah membusuk di dalam kubur.

Kamis, 30 Juni 2016

ADA KEBAIKAN DARI SEBUAH KEGAGALAN


https://www.islampos.com/286022-286022/

KEGAGALAN sangat menakutkan bagi sebagian orang,karena dari semua usaha terbaik yang dilakukan harus berakhir pada kata gagal. Rasanya seperti tertimpa tembok yang runtuh, kemudian jatuh dan menanggung beban seberat itu. Berpikir untuk bangkit rasanya sulit, karena badan sudah terhimpit. Segitu beratnya pandangan saya tentang kegagalan, rasanya sesak dan mengecewakan. Tapi apakah kita tahu kenapa kegagalan itu ada? Kenapa kita mengalaminya? Dan itu terjadi pada kehidupan saya setahun yang lalu. Salah satu dari sekian kegagalan yang cukup membuat saya paham dan mengerti, mengapa kegagalan itu harus menimpa pada saya.

Bermula ketika saya melamar pekerjaan pada sebuah Perusahaan kosmetik. Karena tidak tahu akses jalan menuju tempat tes, akhirnya saya diantar tetangga saya untuk memenuhi panggilan Psikotes masuk kerja di Perusahaan tersebut, kebetulan dia sudah bekerja beberapa bulan di sana. Sebelum melakukan tes tulis, seluruh calon karyawan (kontrak) yang sudah berkumpul melakukan seleksi dengan mengukur tinggi badan. Tibalah giliran saya, betapa kecewanya ketika tidak bisa melanjutkan ke psikotes selanjutnya karena gagal di seleksi awal. Kenyataannya tinggi badan saya tidak mencapai batas minimal yang ditentukan perusahaan tersebut.

Sangat menjengkelkan karena saya harus pulang sebelum berjuang mengerjakan soal tes tertulis. Saat itu saya hanya berfikir mungkin belum ada rezeki di sini dan melakukan ikhtiar di kesempatan lain.
Beberapa minggu kemudian dari kejadian tersebut, saya dikagetkan dengan berita duka bahwa perusahaan tersebut mengalami musibah kebakaran, karena ledakan tabung gas yang bocor saat proses produksi. Berapa ratus karyawan jadi korban luka-luka dan ada beberapa orang yang meninggal. Bahkan tetangga yang dulu sempat mengantar saya tes menjadi salah satu korban luka bakar serius.

Setelah kejadian itu, saya sadar bahwa apa yang terjadi pada diri saya adalah sesuatu yang terbaik menurut Allah SWT, bukan terbaik menurut pandangan manusia. Berpikir positif dari setiap kejadian, saat ini yang ada di pikiran tentang kegagalan itu adalah Allah SWT sudah menangguhkan musibah untuk saya. Bisa saja jika saya bekerja di perusahaan tersebut saya akan menjadi salah satu korban kebakaran di sana, atau hal buruk lainnya. Wallahua’lam.

Firman Allah SWT:

“……. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.s. Al-Baqarah : 216)

“ …… Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (Q.s. An-Nahl : 8)

“……, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan hanya sedikit.” (Q.s. A-Isra’ : 85)
Semoga Allah selalu melindungi setiap langkah kita, memberikan rasa sabar ketika gagal dan bersyukur dalam menjalani kehidupan ini. Aamiin.

Sabtu, 04 Juni 2016

TUAN, PUAN DAN PENANTIAN

#kisah_takwa

TUAN, PUAN DAN PENANTIAN

Malam semakin larut, diseruputnya kopi hitam yang semakin pekat dan hampir menyentuh dasar gelas. Doni masih fokus pada layar ponselnya dan meneguk lagi kopi itu hingga tersedak. Bukan karena kopi itu yang mulai pahit, tapi karena sebuah status dari akun facebook yang sangat ia kenal. Nisa namanya, dia adalah teman Doni sewaktu SMA. Sudah 4 tahun ia mengagumi Nisa dalam diam. Nisa wanita yang sangat berpegang teguh pada prinsipnya. Jilbab yang ia kenakan wujud pemahaman agamanya yang baik, Dia santun dan juga cerdas.

Saat ini mata Doni hanya terpaku pada status yang ditulis Nisa beberapa menit yang lalu.

"Tuan, namamu tak dapat kureka. Jelas adanya namun tanpa sketsa. Bila masa indah itu ada, doa yang kusisipkan kini tak lagi untuk si pulan. Ada namamu di dalamnya."

Tak lupa Doni membubuhkan like pertama untuk Nisa. Bodohnya ia yang berharap namanya yang nanti ada dalam doa Nisa.

"Mungkinkah aku Tuan tanpa sketsanya?" kata Doni lirih.

"Sudahlah, perihal jodoh hanya Allah yang tahu, kita manusia bisa apa? Hanya bisa memperbaiki diri dan sabar menanti dalam taat." kata Doni menepisnya.

Beberapa menit kemudian Doni membuat status tandingan. Bukan untuk Nisa, tapi untuk dirinya sebagai pengingat diri.

"Puan, untukmu yang sedang dalam penantian. Sabarlah barang sebentar saja. Akupun sedang berusaha, aku akan datang bila takdir indah itu ada untuk kita berdua. Sekarang biarlah aku mencintaimu dalam diam." Doni mengetik pada beranda facebook.

Tapi Doni selalu menyamarkan nama Nisa dengan sebutan Puan, ya hanya itu yang terlintas. Terdengar manis saja saat ia menyebutnya, mungkin Puan itu karena dia perempuan. Doni menutup ponselnya dan tak berharap Nisa membacanya.

"Aku selalu paham bahwa bila cinta telah datang kita akan dihadapkan pada 2 pilihan, menikahi atau menghormati. Bila aku belum siap untuk menikahi maka biarlah aku menghormatimu, dengan cara mencintai dalam diam. Aku kembali teringat pada kisah cinta suci Sayidina Ali dan Sayidatina Fatimah, yang sama-sama mencintai dalam diam. Kemudian Allah pertemukan dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Biarlah Allah yang akan menuntun langkahku menujumu Puan. Aku berdoa semoga Allah selalu menguatkan hati kita, yang sedang menentang kehendak diri, menundukkan nafsu hati. Aku tak pernah tahu bagaimana akhir kisah ini, karena jodoh adalah ketika kecenderungan hati mendapat ridho dari-Nya. Semoga allah meridhoi kita Puan." Doni menasihati diri sendiri sambil menghabiskan satu teguk kopi terakhirnya.

Beberapa minggu kemudian Doni mendapat kabar dari temannya bahwa Nisa sudah tidak tinggal lagi di Jakarta dan tidak jelas dimana tempat tinggal Nisa sekarang. Betapa kagetnya ia mendengar kabar tersebut. Hari-hari Doni penuh tanya dan akhirnya ia memutuskan untuk merantau ke Surabaya sebagai pengobat hati dan menyibukkan diri dengan bekerja.

Surabaya, 2 tahun sudah Doni bekerja di Perusahaan Properti. Karir pria ini semakin meningkat, kini ia menjadi Manager Pemasaran rumah. Diusianya yang kini sudah 25 tahun secara materi dan mental Doni sudah siap untuk menikah. Tapi dimana Nisa berada ia tak pernah tahu.

Sore hari, sebelum pulang Doni membuka berkas yang berisi formulir calon pembelian rumah di minggu ini. Pada formulir terakhir tertulis nama Anisa Rahma lengkap dengan alamat dan nomor teleponnya.

"Apakah ini Nisa yang kucari? Ya Allah, jika memang benar mudahkanlah." kata Doni.

Dengan rasa penasarannya Doni menghubungi nomor tersebut dan merencanakan pertemuan besok di kantornya dengan alasan masalah pembelian rumah oleh Nisa.

Ketika takdir Allah SWT terjadi, tembok pemisah yang kokoh tidak bisa mengalahkan takdir mereka berdua. Betapa kagetnya Doni ketika seorang wanita berjilbab mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangannya.

"Assalamualaikum." kata Nisa lantang.

"Wa'alaikum salam, silakan masuk." jawab Doni.

"Mas Doni? Wah kebetulan sekali ya kita bertemu disini? Apa kabar mas?." kata Nisa heran.

"Nisa? Alhamdulillah baik. Akhirnya kita bertemu Nis. Sudah lama aku mencarimu." jawab Doni

"Ada apa mas? Apakah ada masalah?" kata Nisa bingung.

"Tidak Nisa, Bolehkah aku jujur? Sebenarnya aku sudah lama menyimpan rasa kepadamu. Tapi sebelum aku siap menikahimu aku lebih memilih mencintai dalam diam. Apakah aku boleh bertemu kedua orang tua kamu?" jawab Doni.

"Apa benar begitu mas? Kalau benar silakan mas datang dan bicara langsung kepada orang tuaku." kata Nisa tegas.

Akhirnya Doni datang bersama keluarganya dan bertemu dengan orang tua Nisa. Alhamdulillah lamarannya diterima dan mereka akan menikah bulan depan.

Doni dan Nisa dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan. Takdir yang indah telah terjadi dan Doni bukan lagi Tuan tanpa sketsa yang dinanti Nisa. Satu hal yang tak bisa dipungkiri kalau jodoh pasti bertemu.

End

Bekasi, 4 Juni 2016

Selasa, 31 Mei 2016

ADAKAH ALASAN UNTUK TIDAK BAHAGIA?

Oleh : Emoticon Smile (Susi LW)

Aku suka berdebat dengan Ayahku, tentang pemikiran apapun, yang aku suka setiap aku bertanya padanya, akulah yang akan menemukan jawabnya sendiri. Entah bagaimana caranya menjadi seperti itu. Aku memulai pembicaraanku padanya.

"Yah, aku ingin bertanya, adakah alasan untuk tidak bahagia?"

"Loh ko kamu bertanya seperti itu, kalau begitu bapak bertanya padamu, adakah alasan untuk tidak masuk surga? Sedang kenikmatan banyak disana!"

"Artinya, tidak ada?"

"Ayah tidak bisa menjawab, kamu yang tahu jawabannya."

"Bagaimana aku tahu, jika sekarang masih bertanya yah?"

"Bisa,"

"Caranya yah?"

"Berwudhulah, dan ambil alqur'an."

"Loh kok malah disuruh ngaji yah, baiklah yah tunggu sebentar."

Akupun bergegas dengan keherananku dan mengambil wudhu lalu berdoa, ku ambil al-qur'an dan menghampiri ayahku yang terlihat senyum padaku.

"Sudah duduk sini jangan bingung, sekarang kamu buka surat Ar-rahman ayat 13, bacalah artinya,"

"Maka nikmat tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan."

"Silahkan kamu simpulkan sendiri nak..."

"Berarti tidak ada satu nikmat pun yang bisa didustakan, karena sangat banyaknya nikmat tersebut,"

"Lalu adakah alasan untuk tidak bahagia?"

"Tidak ada."

"Pertanyaanmu sudah kamu jawab sendiri nak, jadi jangan bertanya lagi."

"Wah ayah hebat ya..."

"Sekarang kamu tahu jawabannya, kesimpulannya adalah tidak ada manusia di dunia ini yang tidak bahagia. Yang ada manusia yang mendustakan nikmat Allah SWT, maka dari itu bersyukurlah atas nikmat yang ada"

"Terus yah,"

"Terus nabrak."

"Ya ayah bercanda, ayah kira ini lagi parkir mobil."

Akhirnya kamipun tertawa. Dan aku telah menemukan jawaban dari pertanyaanku sendiri.

End

Bekasi, 16 Mei 2016

Jumat, 27 Mei 2016

THE BOOK (QUOTE)


Sudah tutup saja bukunya, aku hanya bagian kecil didalamnya, deretan huruf yang tak pernah kau baca.

***

Hatimu tak terbaca, bisakah kau mengejanya untukku?

***