#kisah_takwa
TUAN, PUAN DAN PENANTIAN
Malam semakin larut, diseruputnya kopi hitam yang semakin pekat dan hampir menyentuh dasar gelas. Doni masih fokus pada layar ponselnya dan meneguk lagi kopi itu hingga tersedak. Bukan karena kopi itu yang mulai pahit, tapi karena sebuah status dari akun facebook yang sangat ia kenal. Nisa namanya, dia adalah teman Doni sewaktu SMA. Sudah 4 tahun ia mengagumi Nisa dalam diam. Nisa wanita yang sangat berpegang teguh pada prinsipnya. Jilbab yang ia kenakan wujud pemahaman agamanya yang baik, Dia santun dan juga cerdas.
Saat ini mata Doni hanya terpaku pada status yang ditulis Nisa beberapa menit yang lalu.
"Tuan, namamu tak dapat kureka. Jelas adanya namun tanpa sketsa. Bila masa indah itu ada, doa yang kusisipkan kini tak lagi untuk si pulan. Ada namamu di dalamnya."
Tak lupa Doni membubuhkan like pertama untuk Nisa. Bodohnya ia yang berharap namanya yang nanti ada dalam doa Nisa.
"Mungkinkah aku Tuan tanpa sketsanya?" kata Doni lirih.
"Sudahlah, perihal jodoh hanya Allah yang tahu, kita manusia bisa apa? Hanya bisa memperbaiki diri dan sabar menanti dalam taat." kata Doni menepisnya.
Beberapa menit kemudian Doni membuat status tandingan. Bukan untuk Nisa, tapi untuk dirinya sebagai pengingat diri.
"Puan, untukmu yang sedang dalam penantian. Sabarlah barang sebentar saja. Akupun sedang berusaha, aku akan datang bila takdir indah itu ada untuk kita berdua. Sekarang biarlah aku mencintaimu dalam diam." Doni mengetik pada beranda facebook.
Tapi Doni selalu menyamarkan nama Nisa dengan sebutan Puan, ya hanya itu yang terlintas. Terdengar manis saja saat ia menyebutnya, mungkin Puan itu karena dia perempuan. Doni menutup ponselnya dan tak berharap Nisa membacanya.
"Aku selalu paham bahwa bila cinta telah datang kita akan dihadapkan pada 2 pilihan, menikahi atau menghormati. Bila aku belum siap untuk menikahi maka biarlah aku menghormatimu, dengan cara mencintai dalam diam. Aku kembali teringat pada kisah cinta suci Sayidina Ali dan Sayidatina Fatimah, yang sama-sama mencintai dalam diam. Kemudian Allah pertemukan dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Biarlah Allah yang akan menuntun langkahku menujumu Puan. Aku berdoa semoga Allah selalu menguatkan hati kita, yang sedang menentang kehendak diri, menundukkan nafsu hati. Aku tak pernah tahu bagaimana akhir kisah ini, karena jodoh adalah ketika kecenderungan hati mendapat ridho dari-Nya. Semoga allah meridhoi kita Puan." Doni menasihati diri sendiri sambil menghabiskan satu teguk kopi terakhirnya.
Beberapa minggu kemudian Doni mendapat kabar dari temannya bahwa Nisa sudah tidak tinggal lagi di Jakarta dan tidak jelas dimana tempat tinggal Nisa sekarang. Betapa kagetnya ia mendengar kabar tersebut. Hari-hari Doni penuh tanya dan akhirnya ia memutuskan untuk merantau ke Surabaya sebagai pengobat hati dan menyibukkan diri dengan bekerja.
Surabaya, 2 tahun sudah Doni bekerja di Perusahaan Properti. Karir pria ini semakin meningkat, kini ia menjadi Manager Pemasaran rumah. Diusianya yang kini sudah 25 tahun secara materi dan mental Doni sudah siap untuk menikah. Tapi dimana Nisa berada ia tak pernah tahu.
Sore hari, sebelum pulang Doni membuka berkas yang berisi formulir calon pembelian rumah di minggu ini. Pada formulir terakhir tertulis nama Anisa Rahma lengkap dengan alamat dan nomor teleponnya.
"Apakah ini Nisa yang kucari? Ya Allah, jika memang benar mudahkanlah." kata Doni.
Dengan rasa penasarannya Doni menghubungi nomor tersebut dan merencanakan pertemuan besok di kantornya dengan alasan masalah pembelian rumah oleh Nisa.
Ketika takdir Allah SWT terjadi, tembok pemisah yang kokoh tidak bisa mengalahkan takdir mereka berdua. Betapa kagetnya Doni ketika seorang wanita berjilbab mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangannya.
"Assalamualaikum." kata Nisa lantang.
"Wa'alaikum salam, silakan masuk." jawab Doni.
"Mas Doni? Wah kebetulan sekali ya kita bertemu disini? Apa kabar mas?." kata Nisa heran.
"Nisa? Alhamdulillah baik. Akhirnya kita bertemu Nis. Sudah lama aku mencarimu." jawab Doni
"Ada apa mas? Apakah ada masalah?" kata Nisa bingung.
"Tidak Nisa, Bolehkah aku jujur? Sebenarnya aku sudah lama menyimpan rasa kepadamu. Tapi sebelum aku siap menikahimu aku lebih memilih mencintai dalam diam. Apakah aku boleh bertemu kedua orang tua kamu?" jawab Doni.
"Apa benar begitu mas? Kalau benar silakan mas datang dan bicara langsung kepada orang tuaku." kata Nisa tegas.
Akhirnya Doni datang bersama keluarganya dan bertemu dengan orang tua Nisa. Alhamdulillah lamarannya diterima dan mereka akan menikah bulan depan.
Doni dan Nisa dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan. Takdir yang indah telah terjadi dan Doni bukan lagi Tuan tanpa sketsa yang dinanti Nisa. Satu hal yang tak bisa dipungkiri kalau jodoh pasti bertemu.
End
Bekasi, 4 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar