Rabu, 03 Agustus 2016

Mencintai Hobi



 Oleh : Susi LW

Berbicara soal cinta tak akan ada habisnya, sebab pesonanya dimiliki semua manusia. Manusia mana yang tidak memiliki cinta? Karena manusia diciptakan lengkap dengan akal dan hatinya. Aku juga demikian, mencintai sesuatu hingga lupa bahwa tak semua orang bisa menerima apa yang aku cintai. Tentunya setelah cintaku kepada Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, sebab itu adalah suatu keharusan. Aku mencintainya dengan tulus, tanpa syarat dan ketentuan apapun, begitupun sebaliknya. Bukan, aku tidak  membahas tentang perasaan di antara dua insan. Lebih dari itu, hingga mereka mempertanyakan cintaku, tak terkecuali adikku.

“Aduh heran sama Kakak, cinta banget sama menulis. Sampai lupa mencari cinta sejatinya.”

“Apa sih kamu Dek, ujung-ujungnya ngomong cinta sejati.”

“Haha, lagian Kakak aneh cinta kok sama yang begituan. Emang dibayar berapa sih tiap harinya? Mau jadi penulis ya? Mimpi kali ye.”

“Nah begini nih kalo anak kecil ngomongin cinta, berasa paling pinter sendiri. Kalo masih mikir berapa bayarannya itu sih bukan cinta Dek. Sejak kapan cinta menuntut bayaran? Cinta itu ikhlas, tanpa mengharap imbalan apapun. Ngerti gak?”

“Cieee cinta banget tuh…”

“Harus dong, karena gak semua penulis bisa mencintai pekerjaannya. Masih banyak yang menulis hanya untuk uang, tanpa mengetahui manfaat apa yang ada ketika mereka menulis.”

“Memang Kakak tahu manfaatnya? Nanti juga kalo udah jadi penulis cintanya berubah haluan jadi cinta uang dan popularitas.”

“Semoga enggak Dek. Menulis itu banyak manfaatnya, di antaranya bertambah ilmu pengetahuan kita. Karena ketika kita menulis maka kita akan semakin haus ilmu. Membaca jadi pelepas dahaganya, dengan membaca kita akan mendapat bahan tulisan. Kakak juga selalu inget pesan Ayah. Ketika ingin menulis yang terpenting bukan seberapa besar harga tulisannya nanti, tapi cobalah berpikir tentang seberapa besar manfaat dari tulisan itu.”

“Oh gitu yak Kak.”

“Iya jangan aneh ya dengan keputusanku mencintainya. Hehe. Walalupun ini cinta yang aneh, menulis dengan mayoritas penduduk Indonesia yang minat membacanya sangan rendah. Jadi merasa bertepuk sebelah tangan kalo mikir gitu Dek.”

“Yah baper deh… kalo gitu mah putusin aja kak.”

“Jangan dong, kamu gak tahu ya? Manfaat menulis itu tidak pernah putus, bahkan ketika penulisnya meninggal. Tentunya tulisan yang bermanfaat.”

“Masa iya begitu?”

“Iya dong, penulisnya boleh tiada tapi karyanya akan abadi selamanya.”

“Jadi pengen nulis nih Kak. Boleh gak aku cinta Dia?”

“Kalo cinta yang ini Kakak rela kok bagi-bagi.”

Akhirnya setelah percakapan panjang ini, Adikku tertarik untuk menulis. Semoga nantinya bisa mencintainya juga dengan ketulusan. Sejauh ini, hal yang membuat aku sangat mencintainya adalah pesan yang dikatakan oleh sahabat Nabi yang mendapat julukan sebagai pintu gerbang ilmu itu, Saidina Ali bin Abi Thalib Ra. “Bahwa setiap penulis akan mati hanya karyanyalah yang akan abadi, maka tulislah sesuatu yang membahagiakanmu di akhirat nanti.”

Inilah cintaku, cinta di atas kuburan, mencintai apa yang hakikatnya berada di atas gundukan tanah. Semoga cinta ini akan membahagiakanku kelak, meski jasadku sudah membusuk di dalam kubur.

Bekasi, 04 Agustus 2016
***

CINTAKU DI ATAS KUBURAN


CINTAKU DI ATAS KUBURAN

Cinta adalah anugerah yang Allah berikan setelah kehidupan. Lantas apakah jadinya bila cinta hanya tertuju kepada kehidupan di dunia? Bukankah ada kehidupan yang lebih kekal setelah kematian? Aku adalah lelaki yang mencintai dunia beserta isinya, tanpa tahu siapa yang berhak aku cintai lebih dari dunia dan seisinya

 ***

Aku menikmati kebahagiaan yang semu, memiliki kekayaan dari orang tua. Bisnis yang aku jalani tak terlepas dari campur tangan Ayahku. Diusia yang hampir kepala tiga ini tak membuatku memikirkan tentang masa depan, ya pernikahan. Entah mengapa Aku sangat menikmati masa lajang ini dengan pertemanan dengan wanita tanpa ikatan pernikahan. Bahagia tapi merasa hampa. Untuk apa memiliki gelas tapi kosong, tak ada air yang dapat melepaskan dahaga.
“Semua ini karena kamu Nisa. sudah kucoba untuk mencari penggantimu, tapi ingatan ini selalu berpihak kepadamu.” Aku memaki sebuah foto yang ada di tanganku.
Nisa adalah cinta pertamaku yang hilang. Dia memilih pergi setelah aku nyatakan perasaan ini, apa yang salah dengan ungkapan cintaku? Apa salah jika aku mencintai wanita berjilbab sepertinya? Tanpa sadar air mataku terjatuh, mengingat saat terakhir aku bertemu dengannya. Saat itu
pandangannya jatuh ke arah tanah, seolah tak memperhatikanku tapi mendengar secara dalam.

***

“Nisa tunggu sebentar, bisakah aku berbicara denganmu?”

“Silakan Doni, tapi gak lama ya!”

“Tapi jangan nunduk terus dong, kesannya terpaksa banget.”

“Tenang aja Don, aku dengerin ko. Buruan mau ngomong apa?”

“Aku mau jujur Nis, sebenernya aku suka sama kamu. Udah lama aku memperhatikan kamu, tapi kamunya cuek sih.”

“Terus?”

“Aku serius Nis, mau gak kamu jadi pacarku?”

“Denger ya Don, kalo kamu serius temui Bapakku. bagiku cinta itu hanya dihadapkan pada 2 pilihan. Jika kamu tidak bisa menghalalkan maka kamu harus bisa mengikhlaskan.”

***

Kring… Kring… Kring… Nada ponselku memecahkan lamunanku, tentangnya yang kini masih ada di dalam hati. Aku menyesal tak mengerti ucapan yang terakhir Nisa katakan dulu, bagiku semua itu hanyalah sebuah penolakan halus yang ia sampaikan. Saat itupun pikiranku masih labil, hanya memikirkan kesenangan sesaat. Merasa belum siap untuk menikah dengan alasan kuliah yang belum selesai dan amanat Ayah untuk meneruskan Perusahaan.

Nasi sudah menjadi bubur, kayu sudah menjadi arang. Dunia yang aku cintai kini meninggalkanku sendiri dalam kehampaan, cinta yang harusnya aku miliki kini telah menjadi jodohnya orang. Harta yang aku miliki tak bisa untuk memutar kembali waktu yang terbuang. Andai aku berani menghalalkan, aku tak harus merasakan sakitnya mengikhlaskan.

Aku jadikan semua ini sebagai pelajaran. Inilah cintaku di atas kuburan, hanya mencintai apa yang hakikatnya berada di atas gundukan tanah. Cinta yang hanya sebatas kesenangan dunia, berupa cinta, harta tahta dan wanita. Aku hanya mencintai dunia tanpa berfikir untuk mencintai-Nya. Bukankah manusia diciptakan untuk beribadah? Dan menikah adalah salah satu ibadah? Aku menyesal terlambat mengetahuinya. Cinta yang sejati akan menuntunku kepada seorang wanita yang juga mencintai-Nya. Nyatanya cinta Allah yang akan membahagiakanku kelak, meski jasadku sudah membusuk di dalam kubur.