Filosofi Waktu
Nikmatilah irama detak tiap detiknya
Bukankah setiap jam memiliki waktu?
Dimana akan bertemunya jarum detik, menit dan jam
Pada garis yang sama
Bila aku detik yang selalu berputar
Maka kau adalah menit yang selalu menungguku
Lalu kita akan menuju
Jarum jam yang kusebut masa depan
****
TAKDIR YANG TAK BISA DIPESAN
Waktu itu...
Sehari usianya
Usai tangis memecah ketegangan
Berganti tawa dan haru bersuara
Adakah sang bayi berbicara?
Meronta-ronta dalam tangisnya?
Meminta hidup yang lebih baik dari yang ditakdirkan
Haha ini khayalan gila
Ayahnya tak berpangkat
Ibunya bersahaja
Sikecil yang belum mengerti artinya susah
hanya tahu rasanya asi yang tertelan basah
Lapar menangis puas
Kenyang tertidur pulas
Ikhlaslah menjalani hidup hingga besar
Hijaukan rumput sendiri jangan bandingkan
Bilapun hidup bisa ditukar
Biarlah tak perlu bertukar
Bilapun suratan bisa dipesan
Tak akan berubah walau dibayar kontan
Sebab keluarga adalah segalanya, meski tak punya segalanya
****
Tuan Tanpa Sketsa
Tuan...
Namamu tak dapat ku reka
Nyata adanya namun tanpa sketsa
Bila waktu indah itu tiba
Doa yang kusisipkan tak lagi untuk si Fulan
Ada namamu didalamnya
Tuan...
Kutambatkan hati
Meski tak pasti
Semoga takdir indah itu ada
Untuk kita yang sedang berjuang
Menentang kehendak diri
Menundukkan nafsu hati
****
Nyawa Kedua
Cinta...
Tak akan habis kata tersusun
Memaknai rasa yang tak jua beraua
Begitu rumitkah jalannya?
Hingga cinta tak kunjung menampakkan hadirnya
Cinta...
Dengan berjuta keanehannya
Banyak penjelasan diatas ketidakjelasannya
Tapi mengapa masih menantinya?
Sebegitu berartikah bagai nyawa kedua?
****
Pundak Lelaki
Engkau yang kusebut lelaki
Dewasa dalam pangkuan
Menimpa diri dalam asuhan
Hidupmu tak seperti anganmu
Jatuh dan terluka harus terbiasa
Kelak beban pundakmu tak hanya satu
Menjadi tanggungan bahagiakanlah
Orang tua, saudara, dan anak istrimu
Bertumpu satu pada kekar pundakmu
Melangkahlah
Seperti tak ada beban dipundak
Meskipun berat
(SLW)
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar