Harus dengan apa aku memaknainya, bila cinta bukan sekedar kata, lantas kusebut ia apa?
Tak bisa aku artikan dengan tepat, tapi banyak penjelasan didalamnya, tergantung dari sudut mana kita memaknainya.
Ia ibarat pagi yang tak pernah aku tahu kehadirannya, datang atau tidak, mendung atau cerah.
Terkadang ia memancarkan sisi wajahnya bagai malam, gelap kadang berbintang.
Ada yang mengira ia matahari di siang bolong, untuk menatapnya pun katanya tak akan mampu,
Bulan pun pernah di sandingkan dengannya, katanya cinta terlalu jauh tak bisa untuk di gapai.
Bagi sang pecandu, cinta layak nikotin yang bebahaya tapi tetap menjadi kebutuhan. Bukankah ini sangat janggal? Yang menyakitkanpun tetap jadi kebutuhan?,
Lalu bagaimana dengan sang penyair, cinta baginya kumpulan kata yang menjadikannya indah, sebuah syair penggugah rasa, harus ditulis dan abadi dalam karyanya.
Betapa indahnya kau cinta bagi penyair yang dirundung api asmara, namamu indah dalam lamunannya, selalu jadi topik di setiap karyanya.
Tapi maaf kau harus jadi yang terhina oleh sang penyair yang terluka. Namamu jadi tema dari ribuan kata luka,
Terima saja meski bukan kau yang bersalah.
Bila kau udara bagaimana aku bisa menjamahmu? Kau tak tersentuh namun dapat ku rasakan.
Pisau yang tajam tak beda denganmu, bisa saling membuat luka, namun tak nampak jelas sakitnya.
Kau bagai alunan syahdu, yang tak henti-hentinya aku dendangkan.
Kau bagai lukisan alam, indah dimata dan sejuk dihati,
Pujangga yang berkata bahwa tanpamu bagai taman yang tak berbunga,
Lalu bagaimana dengan bumbu penyedap rasa, tanpamu hambar rasanya.
Layaknya berjalan diatas kaca, untuk melaluinya kita perlu berhati-hati bila tak ingin hancur berkeping-keping.
Kau indah namun menyimpan luka, bagai mawar yang berduri.
Jalanmu kadang bercabang dua, bagi si penghianat cinta yang tak setia.
Kau bagai dermaga, tempat jutaan hati yang bermuara.
Bagai pantai yang merindukan ombak, kadang pasang dan kadang surut.
Bagai rintik hujan yang tetap hadir meski ia tahu rasanya jatuh berkali-kali.
Bagai air penghilang dahaga,
Kau bisa menjadi obat penyembuh luka, atau berbalik menjadi racun yang mematikan.
Bagai pintu yang kadang terbuka dan tertutup, ia hanya perlu kunci untuk membuka hatinya.
Masih banyak yang tak bisa aku gambarkan, hingga aku harus menyimpannya sendiri,
Tersenyumlah, karna cinta pasti datang padamu, tunggu saja waktunya hingga ribuan kata tercipta dan silahkan artikan sendiri keistimewaannya.
Pada akhirnya, seindah apapun kita mengartikannya, cinta tetaplah cinta, banyak penjelasan didalam ketidakjelasannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar