Jumat, 27 November 2015

Surat kecil untuk adikku



Kita memang sering bertukar kata tentang segala hal yang gila, hari-hari pun terasa kurang lengkap bila kita tak bertatap muka walau sehari saja, ada tawa dan canda namun ada juga tangisan manja yang tak luput di wajah adikku ini, ketika candaan kita tak lagi terlihat lucu. Hari hari yang kita lewati pun terlihat monoton dan berulang. Nonton tv bersama, terkadang makan juga bersama, membersihkan rumah, bercanda dan berbagi kisah tiap harinya.

Ada banyak hal yang tak bisa aku ungkapkan kepadamu, tapi akan ku sampaikan meski tak langsung ku ungkapkan.

Ribuan kata sudah kita bicarakan, beberapa hal pun tak pernah habis di perbincangkan. Dari hal gila, beberapa curahan hati dan masalah yang cukup rumit pun sudah kita selesaikan. Namun ada beberapa hal yang tak bisa aku ungkapkan langsung kepada mu. Bukan rahasia, hanya saja ada perasaan sedikit malu untuk mengutarakannya. Bisakah kau luangkan waktu sedikit saja untuk membacanya. Semoga kau bisa memahami setiap kata yang akan aku ungkapkan.

Ini tentang tujuan kita dan kebahagiaan ibu bapak di masa tua.

Bukankah kamu tahu ada banyak impian dan cita-cita yang kita susun bersama, berharap semua bisa terwujud dengan indah. Orang tua yang harus bahagia di masa tua, rumah yang layak untuk kita tempati dan masa depan yang belum kita ketahui ujungnya. Bisa kah kita bersama-sama berjuang mewujudkannya? Memulai kembali pondasi yang dulu sempat hancur menjadi puing-puing luka dan air mata. Mungkin sekarang belum cukup bahagia tapi kebahagiaan akan hadir bila kita ciptakan sendiri. Sesederhananya canda tawa yang kita lewati saat menonton acara televisi. 

Bila aku tak cukup baik berupaya membahagiakan, mau kah kamu menyempurnakan langkah yang sempat berjalan.

Ketika usaha terbaik sudah dilakukan namun  tak kunjung berbuah, ketika ribuan doa belum cukup dikabulkan, ketika kegagalan selalu menjadi teman, meski bangkit namun terjatuh lagi. Jika aku mulai lelah berjalan, jika ada banyak air mata dan kekecewaan, aku sebagai kakak yang tak cukup baik untuk dijadikan teladan. Kuatkan langkahku, rangkul aku dan bersiaplah melanjutkannya. Bisakah kau memperbaiki kurangku? Bisakah kau berupaya lebih keras lagi? Bisakah kau berdoa lebih ikhlas lagi? Semoga kau bisa lebih gigih dari aku kakakmu.

Mari kita susun lagi langkah baru, menyempurnakan yang biasa, melengkapi yang kurang, menemukan yang hilang. Semoga ada satu dari kumpulan doa yang dikabulkan.

Jatuh kita bersama, bahagia kita bersama, tak ada yang berani pergi melangkah sendiri, meski hujan kebasahan, siang kepanasan tak akan jadi penggoyah rasa kebersamaan. Kita lupakan sejenak kesulitan hidup, jika doa dan usaha terbaik tak cukup mewujudkannya, setidaknya kita sudah berusaha.  Masih ada waktu untuk kita menyusun kembali  langkah baru dan membuat skala bahagia lebih kecil lagi. Sesederhana mungkin tanpa standar batas minimal. Dengan mensyukuri nikmat, beribadah yang giat, dan keyakinan kepada Allah yang kuat. Semoga ini menghantarkan kita ke kebahagiaan yang abadi, bila tidak di dunia semoga di akhirat bisa.

Dari kakakmu yang tak cukup tangguh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar