Senin, 23 November 2015
Temanku si pendiam ulung
Selamat pagi teman, ini ribuan kali aku menyapamu, dan seperti biasa tak ada jawaban dari salamku ini. Tapi masih saja aku bicara tanpa henti, sambil tertawa kecil aku mengajakmu ke tempat baru yang belum kita datangi. "Mau kemana kita hari ini?" semoga kau tak lelah ya menemaniku.
Dan tanpa jawaban pun aku tahu, ia teman terbaikku, tak pernah mengeluh menopangku, tak pernah menolak ajakanku, teman menjelajah ruang yang ramah,
Butuh penyeimbang saat bersamamu, bila tidak ingin terjatuh. Dan saat itu terjadi kaulah yang menjadi tamengku saat aku terjatuh.
Denganmu semua terasa lebih cepat, tak perlu berlari sendiri.
Semua sangat seimbang, ketika aku tergesa-gesa kau mengatur langkahku. Energi dariku kau serap menjadi langkah. Perlahan demi perlahan kita akan mencapai tujuan yang sama. beriringan dan sejalan, meski jalan yang terjal kita bisa melewatinya bersama.
Aku tertawa geli, karna terlalu banyak kata-kata ku ini untuk kau Sepedaku, ya dia teman terbaikku. hanya sebuah benda mati, tak mungkin didengar, sudah ya sepedaku lebih baik kita cari tempat yang baru dengan perjalanan baru dan menyehatkan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar